Kamis, 04 November 2021

 R G B P News


Isu-isu liar kembali bergulir di kalangan umat beragama. Di kalangan umat Islam, isu yang diangkat adalah perihal kehalalan bahan pembuatan vaksin. Dan, untuk menjawab sekaligus menangkal isu tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menyatakan status vaksin sebagai suci dan halal.


Sementara itu, bagi kalangan umat Kristen, salah satu isu yang digulirkan adalah perihal adanya microchip 666 yang nantinya akan ditanamkan ke tubuh manusia melalui vaksin. Kiriman-kiriman handai taulan perindhal isu tersebut telah tersebar di berbagai Grup WhatsApp. Pada akhirnya, banyak pertanyaan yang diajukan tentang kebenaran isu liar tersebut, yang bila tidak dijawab dengan tepat, akan menimbulkan kebingungan umat.


Isu microchip 666 sebenarnya bukanlah hal baru. Hampir setiap ada kejadian, musibah, dan pandemi, seperti yang terjadi sekarang ini, isu ini selalu bergulir. Hal tersebut dapat dikatakan berawal dari studi eskatologi, atau yang sering disebut sebagai studi tentang 'akhir zaman' di kalangan umat Kristen. 


Sebagian teolog menafsirkan ayat-ayat yang berhubungan dengan akhir zaman secara literal tanpa melihat konteks saat ayat tersebut dituliskan. Salah satu contoh ayat tersebut adalah: Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, yang tertulis di surat Wahyu pasal 13 ayat 16.


Ayat tersebut dianggap sebagai cara yang digunakan oleh sosok yang dijuluki sebagai 'Antikris' untuk menguasai sistem perekonomian dunia dengan menanamkan chip pada tangan dan/atau dahi seluruh umat manusia. Karenanya, bagi umat yang mempercayai penafsiran tersebut, vaksin yang dapat dianggap sebagai solusi bagi seluruh umat manusia di masa pandemi ini adalah sarana paling tepat yang dapat digunakan untuk menggenapi ayat tersebut.


Mereka meyakini akan ada microchip yang diintegrasikan di tiap vaksin yang akan disuntikkan pada manusia. Microchip itulah yang nantinya dapat digunakan oleh sang 'penguasa' untuk mendeteksi dan mengendalikan kehidupan manusia di seluruh dunia. Tidak ada orang yang dapat melakukan transaksi apapun tanpa chip tersebut.


Penafsiran tersebut tentu saja dapat menimbulkan keresahan dan ketakutan di kalangan umat. Bahkan, bisa jadi akan ada orang yang menolak untuk divaksin. Sungguh disayangkan bila hal itu sampai terjadi. Niat baik pemerintah untuk mengendalikan sekaligus menghentikan penyebaran virus corona tidak menemui sasarannya.


Karenanya, peran dari lembaga-lembaga Kristen aras nasional sangat diharapkan untuk dapat menyosialisasikan vaksinasi sekaligus juga mengedukasi umat. Apresiasi patut diberikan kepada Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) yang telah mengeluarkan imbauan tentang vaksinasi pada 5 Januari 2021. Dalam rilisnya, PGI menghimbau gereja-gereja untuk dapat memberikan dukungan optimal bagi pelaksanaan vaksinasi.



Berdasarkan hasil penelusuran, klaim terkait adanya Chip RFID 666 ini merupakan klaim yang sudah lama beredar.


Pada tahun 2014, rumor chip RFID pernah ramai diperbincangkan di AS, 1 dari 3 orang Amerika telah tertanam chip RFID dan sebagian besar tidak menyadarinya. Dalam laporan yang beredar mengatakan bahwa kebanyakan chip ditanamkan saat perawatan gigi. 



Pada pertengahan tahun 2017, rumor chip 666 RFID beredar di Indonesia melalui pesan berantai. Umat Kristen Indonesia saat itu dihebohkan dengan kabar adanya demo pemasangan chip ini yang digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, akhir Juli 2017 lalu.


Pihak ICE akhirnya [membantah](https://www.gkridc.com/ice-bantah-ada-demo-pemasangan-chip-rfid-666/) dan menjelaskan bahwa acara di ICE BSD City tidak ada kaitannya dengan chip 666 RFID. Mereka mejelaskan bahwa telah terjadi kesalahpahaman dimana saat tayangan di RCTI yang membahas mickrochip implan, dalam waktu bersamaan muncul tayangan iklan acara IIPE. Dengan itu, yang menyebarkan informasi salah menduga acara IIPE adalah acara demo pemasangan chip RFID 666.


Bahkan cerita itu dihembuskan oleh situs satir untuk mengolok-olok teori konspirasi yang menuduh pemerintah mencoba mengendalikan warganya dari jarak jauh dengan menggunakan microchip.


Penggunaan mikrochip yang ditanam di bawah kulit tidak menutup kemungkinan akan dilakukan suatu hari nanti, tetapi fungsinya untuk menyimpan informasi riwayat medis penting yang nantinya akan digunakan oleh dokter untuk tindakan lebih lanjut.


Cerita tentang chip implan 666 RFID yang ditanamkan pada tangan kanan dan dahi tidak terbukti alias hoax, berasal dari teori liar yang dihembuskan oleh para pecinta teori konspirasi, kemudian berkembang dengan menghubungkannya dengan agama.


Di samping itu, PGI juga meminta pemerintah untuk meningkatkan edukasi dan literasi secara berkelanjutan dan merata bagi masyarakat luas dengan memanfaatkan semua jejaring sosial sebagai media dan medium sosialisasi. Edukasi publik yang diharapkan tentunya berhubungan dengan distribusi vaksin, pelaksanaan vaksinasi, efektivitas vaksinasi, termasuk kemungkinan kontra indikasi dan penanganannya yang telah dipersiapkan.


Mengingat umat Kristen di Indonesia terdiri dari beragam aliran/mazhab, alangkah baiknya bila sosialisasi dan edukasi tidak hanya dilakukan oleh salah satu lembaga saja. Selain PGI, ada juga Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) dan Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), misalnya. Lalu, ada juga gereja-gereja dari aliran Advent, Baptis, Bala Keselamatan, dan Ortodoks.


Sudah bukan rahasia lagi bila ada pemeluk Kristen yang sangat fanatik dengan alirannya sendiri. Ia sulit untuk menerima pendapat atau imbauan yang disampaikan oleh lembaga aras yang tidak sealiran dengannya.


Tentu saja, orang-orang yang diharapkan tergabung di dalamnya adalah para teolog yang dianggap mumpuni, dan tidak hanya berasal dari satu aliran saja. Dengan demikian, umat tidak harus menunggu-nunggu arahan dari lembaga arasnya masing-masing. Dan nantinya tiap kebijakan dari pemerintah dapat tersampaikan dengan jelas, baik dari segi tujuan, sasaran, maupun dari sisi teologisnya.


Juga Baru-baru ini beredar narasi yang menyebutkan vaksin COVID-19 mengandung mikrocip magnetis. Narasi tersebut tidak benar dan masyarakat diminta tidak terpengaruh.

Beberapa video tentang hoax itu sudah beredar di media sosial. Unggahan-unggahan tersebut menunjukkan seseorang meletakkan koin uang  seribu rupiah di lengan bekas suntikan vaksinasi COVID-19.

Hasilnya koin menempel seolah membuktikan narasi vaksin COVID-19 yang mengandung mikrocip magnetis adalah benar.

Ketua Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro mengatakan persoalan tersebut perlu dikaji dengan baik.

Ia menjelaskan lubang jarum suntik sangat kecil, tidak ada partikel magnetik yang bisa melewati.

“Vaksin berisi protein, garam, lipid, pelarut, dan tidak mengandung logam. Jadi perlu dijelaskan bahwa berita itu hoax,” katanya.


Lebih jauh Jubir Vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmidzi mengatakan vaksin mengandung bahan aktif dan non aktif, dimana bahan aktif berisi antigen dan bahan non aktif berisi zat untuk menstabilkan, menjaga kualitas vaksin agar saat disuntikan masih baik.

Adapun jumlah cairan yang disuntikan hanya 0,5 cc dan akan segera menyebar di seluruh jaringan sekitar, sehingga tidak ada carian yg tersisa.

“Sebuah logam dapat menempel di permukaan kulit yang lembab biasanya disebabkan keringat. Pecahan uang loga seribu rupiah terbuat dari bahan nikel dan nikel bukan bahan yang bisa menempel karena daya magnet,” ucapnya.


Sosialisasi Program vaksinasi dalam rangka menanggulangi pandemi COVID-19  di lingkungan Kerjapun  terus bergulir. 


Program ini diperlukan dukungan Karyawan/masyarakat untuk menyukseskannya. 


Dukungan masyarakat akan terbentuk apabila pemahaman tentang vaksin & program vaksinasi itu sendiri sudah terbentuk.

 

Oleh karena itu diperlukan peran aktif berbagai pihak untuk berpartisipasi aktif dalam mengedukasi karyawan/masyarakat terkait program vaksinasi tersebut. 


Terkait dengan hal tersebut  salah satu Perusahaan di Indonesia melakukan Sosialisasi kepada Karyawannya melalui Departemen PAD dan  PHMC berkolaborasi mengadakan Sosialisasi  Vaksin PADA KARYANNYA.

IMG_4710.jpeg


Dipublikasikan oleh RGBP News.



Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Widyawati, MKM

*RINGKASAN ASAL-USUL GEREJA BAPTIS*

 *RINGKASAN ASAL-USUL GEREJA BAPTIS*

 

Sejarah Gereja Baptis itu bukan sejarah gereja yang ada papan nama gereja Baptis, melainkan sejarah KELOMPOK orang yang percaya kepada pengajaran yang disampaikan sejak Yohanes Pembaptis, Tuhan Yesus Kristus, dan Para Rasul. Pengajaran lisan mereka mustahil bisa diingat, maka itu Tuhan menginspirasikan Para Rasul menuliskannya, dan hari ini telah dicetak, dijilid menjadi sebuah kitab. Bahkan dengan kemajuan teknologi kitab tersebut sudah bisa disimpan ke dalam smartphone kita, serta diterjemahkan ke berbagai bahasa.

 

Start awal misi Perjanjian Baru ialah Allah menepati janjiNya untuk mengirim Elia. "Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu" (Mal. 4:5). Dia lahir dengan nama alias, Elia alias Yohanes. 

 

Yohanes Pembaptis adalah pemberita Injil zaman PB yang pertama. Dialah yang memperkenalkan Sang Juruselamat, Yesus Kristus. Dan Yesus Kristus berkata bahwa dia adalah Elia yang dinubuatkan di Maleakhi 4:5.

 

Setelah pekerjaan YOHANES/ELIA selesai, dia pulang ke Sorga menumpang pedang algojo Herodes. 

 

Kemudian pelayanan diteruskan oleh Yesus Kristus, yang diikuti oleh murid-murid Yohanes/Elia. Setelah menolak Elia mereka akhirnya menolak Yesus yang adalah Allah Jehovah yg mengenakan daging manusia. 

 

Karena penolakan bangsa Yahudi, maka mereka tidak layak jadi Tiang Penopang dan Dasar Kebenaran (TPDK), oleh sebab itu SEKUMPULAN ORANG yaitu EKKLESIA yang percaya kepada Sang Mesias ditetapkan sebagai TPDK. Dan EKKLESIA yang adalah TPDK ini kemudian dipimpin oleh para RASUL YESUS KRISTUS. 

 

Yesus Kristus memberikan WAHYU kepada para RasulNya untuk diajarkan kepada orang yang percaya. Dan MENGINSPIRASIKAN mereka menulis kitab PB untuk menjadi patokan iman sampai Yesus datang menjemput. 

 

Sejak semua rasul pulang ke Sorga, Gereja mulai menyimpang sedikit demi sedikit.

 

Penyimpangan makna pembaptisan menjadi;

1. Dibaptis supaya pasti masuk Sorga.

2. Dibaptis supaya tidak sakit

3. Dibaptis supaya tidak diganggu setan.

 

Kesalahan konsep baptisan ini menyebabkan usia seseorang semakin muda, dan menjurus ke pembaptisan bayi. Karena kesalahan konsep tersebut mendorong orang tua yang tidak paham kebenaran untuk secepatnya membaptis bayi mereka demi keamanan yang keliru itu. 

 

Kemudian setelah Konstantin muncul menjadi kaisar Roma, berdirilah gereja Roma Universal (Katolik atau AM). Dengan kekuatan kaisar, gereja yang di-backup negara mengharuskan BAYI DIBAPTIS, berdirilah gereja Roma RAYA, yang Katolik/Am. Sebenarnya bayi itu bukan dibaptis (BAPTIZO) melainkan dipercik (RANTIZO). Kata BAPTIZO itu artinya masuk ke dalam air, sedangkan diperciki air bahasa Yunaninya RANTIZO. Mulai saat itu semua kekristenan harus menyatu atau tunduk di bawah gereja Roma yang Katolik atau Am. Tidak ada sisa kekristenan yang berdiri sendiri di luar Katolik di seluruh kekuasaan Kekaisaran Romawi. 

 

Gereja Rasuli dan Orthodox bikin cerita karangan baru bahwa mereka tidak di dalam Katolik, jadi lucu. Sejarah mencatat satu persatu gereja kemudian keluar dari Katolik setelah kekaisaran Roma melemah. Sejarah mencatat Orthodox keluar dari Katolik tahun 1054. Salah satu tanda paling nyolok bahwa mereka berasal dari Roma yang Katolik/AM ialah pemercikan bayi yang masih tetap mereka lakukan. 

 

Tetapi, sejak awal ada SEKELOMPOK ORANG KRISTEN yang setia pada pengajaran para Rasul dan mengerti tulisan Rasul, yang tidak setuju dengan pemercikan bayi, dan mereka tetap membaptis hanya pada orang dewasa dan yang mengaku percaya, membuat pengakuan iman. Tetapi kelompok ini sangat dibenci Roma Katolik, maka mereka diburu. Mereka ini jika ditemukan akan dibunuh, dan jumlah mereka yang disiksa serta dibunuh tak terhitung jumlahnya. Mereka tenggelam masuk ke bawah tanah untuk bersembunyi, mereka benar-benar masuk ke bawah tanah membangun katekombe-katekombe di bawah kota-kota Eropa. 

 

Orang-orang dari Katolik yang sudah dewasa yang diinjili kemudian sadar, bertobat dan beriman dengan benar, dan mau gabung ke mereka, disuruh mengaku percaya atau buat pengakuan iman di hadapan jemaat dan DIBAPTIS ULANG dengan baptisan alkitabiah. 

 

Kata BAPTIS ULANG ini bahasa Yunaninya ialah ANA-BAPTIS. Kata Ana = ulang, baptis ya artinya Baptis maka BAPTIS ULANG menjadi ANABAPTIS. Kata ini akhirnya dikenakan kepada kelompok orang ini oleh gereja Katolik. Bukan mereka yang memberi nama pada mereka sendiri, melainkan orang lain yang memberi mereka nama Anabaptis, yang artinya kelompok Kristen yang membaptis ulang orang yang mau gabung pada mereka. Sebenarnya ini nama ejekan. Mengapa mereka membaptis ulang orang, karena mereka tidak mengakui baptisan bayi yang dilaksanakan oleh Gereja Roma. 

 

Mereka dianiaya selama zaman Romawi Jaya seribuan tahun, dan kemudian Protestan juga  ikut-ikutan menganiaya mereka karena Protestan juga terjebak dalam baptisan bayi yang ditentang Anabaptis. 

 

Setelah bosan menganiaya akhirnya raja dan ratu di Eropa seturut dengan tuntutan demokrasi melonggarkan juga tentang kebebasan iman. Maka tibalah  masa KEBEBASAN pada abad 17. Pada masa bebas inilah para ANABAPTIS keluar dari persembunyian dan mendirikan gereja dengan nama gereja BAPTIS. Banyak sejarahwan YANG TIDAK CERMAT menjadikan momen ini untuk mematok waktu berdirinya gereja Baptis. Padahal ini adalah saat mereka MUNCUL KE PERMUKAAN setelah sembunyi seribuan tahun lebih karena dianiaya. Keberadaan mereka biasanya di dalam catatan buku penganiaya mereka dengan sebutan bidatlah, pembangkanglah, pengkhianatlah, dan lain sebagainya. 

 

Charles Spurgeon berkata, orang Baptis itu mirip aliran air, di tempat tertentu dia tenggelam di bawah tanah, dan di tempat tertentu dia timbul ke permukaan sehingga disebut sungai. 

 

*Gereja Baptis Menjadi Banyak Jenis*

 

Karena ada kemasukkan berbagai paham, sekarang gereja Baptis juga banyak yang sudah terkontaminasi RAGI. Penyebabnya ialah karena mereka tidak menerapkan _local church seperation,_ mereka mengijinkan pengkhotbah dan pengajar doktrin lain berdiri di mimbar atau kelas mereka. Dan ketidakpahaman akan jati diri BAPTIS telah menyebabkan banyak kelompok Baptis muncul, ada yang Calvinistik, Injili, bahkan Kharismatik. 

 

Banyak pemimpin Baptis yang tidak mengerti makna independen setiap jemaat lokal sehingga membentuk sinode, persekutuan dan lain-lain yang bersifat mengatur jemaat lokal. Mereka tidak sadar jika bersifat sinodal, maka sekali terkontaminasi sifatnya akan melanda seluruh sinode. Oleh sebab itu Baptis yang alkitabiah harus tetap menjaga independensi setiap jemaat lokal dan tidak mau sinodal, tidak boleh membentuk sinode, bahkan tidak boleh ada persekutuan yang penuh aturan pengikat. Prinsip ini penting dijaga agar ketika jemaat lokal yang satu terkontaminasi dan rusak maka yang lain belum tentu, melainkan bisa menasihati yang salah. Tiap-tiap gereja mutlak harus bersifat lokal dan independen. Dan JEMAAT tidak boleh tunduk pada apapun bahkan tidak tunduk pada kuasa alam maut sekalipun. Orang Kristen SECARA PRIBADI harus tunduk pada otoritas yang di atasnya yaitu pemerintah, tetapi TUBUH TUHAN (Jemaat) tentu tidak tunduk pada apapun selain kepada Tuhan. Dan tubuh Tuhan itu EKKLESIA, yaitu orang-orang yang berkumpul di sebuah lokasi, bukan seluruh kekristenan.  Sedangkan seluruh kekristenan itu disebut KELUARGA ALLAH (1Tim.3:15), bukan tubuh Tuhan. 

 

Banyak orang Kristen berkata, "kita kan satu tubuh" maksud sesungguhnya ialah kita sama-sama orang Kristen, sama-sama anak-anak Allah. Padahal menurut Alkitab tubuh Kristus itu JEMAAT (EKKLESIA), bukan seluruh kekristenan. Jemaat itu terjadi ketika orang percaya yang BERKUMPUL, jika tidak berkumpul, melainkan masing masing di rumah, itu bukan jemaat. Dan yang Alkitab katakan tubuh Tuhan itu jemaat bukan kekristenan. 

 

Masing-masing gereja lokal harus INDEPENDEN, namun saling membantu, saling mengasihi dan memelihara semangat saling menegur jika ada yang salah dengan KASIH supaya jika ada yang salah bisa berbalik jadi benar. 

 

Sesungguhnya SELAIN gereja Dutch Reformed Belanda yang melarang pribumi hadir kebaktian mereka, MISIONARI BAPTIS adalah termasuk misi paling awal ke Hindia Belanda (Nusantara). Tahun 1812, ketika wilayah Nusantara di bawah Inggris, Gubernur Raffles mengundang misi datang ke Nusantara. Misi Baptis dari Inggris segera menanggapi, dan mengirim misionarinya, pelayanan mereka terpusat di Semarang. 

 

*GBIA (Gereja Baptis Independen ALKITABIAH)*

 

Tahun 1995 Dr. Suhento Liauw pulang dari AS, diutus oleh Tabernacle Baptist Church di Virginia Beach, AS, memulai jemaat di Sunter. Setelah sungguh mengerti tentang sejarah kaum ANABAPTIS, dan sungguh memahami doktrin yang dipegang teguh kaum ANABAPTIS, bertekad mendirikan (GBIA) Gereja Baptis yang Independen dan Alkitabiah. GBIA bertekad menjaga prinsip yaitu TIGA SUKAT GANDUM dari ragi si perempuan (Mat.13:33). Tiga sukat gandum yang murni itu ialah PUREST MOTIVATION, HIGHEST MORALITY dan BIBLICAL DOCTRINES. GBIA setia mempraktekkan prinsip ANABAPTIS, yaitu orang yang mau jadi anggota jemaat harus membuat pengakuan iman di hadapan Jemaat dan membaptis ulang yang belum pernah dibaptis dengan benar. 

 

Ini ringkasan tentang asal-usul gereja Baptis yang Independen dan Alkitabiah.

 

Jika Anda mencari gereja yang alkitabiah, Anda bisa menemukannya, dan harus menemukannya. Karena jemaat lokal alkitabiah bagaikan ladang yang ada harta terpendam di dalamnya. Dan kebenaran yang dimiliki gereja alkitabiah seperti mutiara yang indah. Siapa pun yang menemukan ladang yang ada harta di dalamnya akan beli ladang itu dan pindah ke lokasi. Atau yang menemukan mutiara indah akan membelinya dan membawanya pulang. 

 

Dari sejak Yohanes Pembaptis mengkhotbahkan pertobatan dan menunjuk pada Yesus Sang Anak Domba Allah, kemudian Tuhan Yesus membangun iman murid-muridNya dan mengutus mereka sebagai RasulNya, dan selanjutnya para Rasul menuliskan wahyu yang Tuhan turunkan sehingga bersifat tertulis, dan sekarang menjadi sebuah kitab, maka jemaat TPDK (Tiang Penopang & Dasar Kebenaran) sudah ada patokan Firman Tuhan. Gereja yang benar, APAPUN NAMANYA hanya ada satu syaratnya yaitu ia seharusnya merupakan kumpulan orang percaya yang pengajarannya BENAR sesuai Alkitab, satu-satunya firman Tuhan dan sesuai akal sehat yaitu alat yang Tuhan berikan pada manusia untuk memahami FirmanNya.

 

Berikut ini pokok utama yang diimani Para ANABAPTIS sepanjang zaman. 

 

1. Memegang teguh pada 27 kitab PB, dan 39 kitab PL. Ini adalah satu-satunya firman Tuhan. Pewahyuan hanya sampai kitab Wahyu. Sesudah kitab Wahyu tidak ada lagi wahyu dalam bentuk apapun. 

 

2. Diselamatkan oleh iman tanpa tambah apapun. Beriman kepada Kabar Baik bahwa Yesus Kristus dihukumkan menggantikannya, sehingga dia dinyatakan sebagai orang kudus. Orang kudus adalah orang yang dosanya telah ditanggung Yesus Kristus, bukan yang sudah mati kemudian ditetapkan sebagai orang kudus oleh gereja. 

 

3. Tidak boleh ada IMAM karena setiap orang percaya adalah Imam, bahkan anak Allah. Membangun jabatan Imam bukan dari keturunan Harun dan tanpa wewenang memberkati orang adalah tindakan lancang. 

 

4. Anggota jemaat dibaptis masuk dalam air atas pengakuan imannya. Masalah bukan pada umur, tetapi yang bersangkutan harus sudah bisa bertanggung jawab atas pengakuan imannya sendiri. 

 

5. Gereja terpisah total dari negara. Gereja/Jemaat adalah terbentuk saat orang berkumpul dalam nama Yesus Kristus. Gereja tidak boleh berpolitik, orang Kristen secara pribadi boleh berpolitik, bahkan harus mengerti politik. 

 

Kelompok ini terus menerus eksis dan di Indonesia adalah GBIA.

 

*PINDAHLAH KE LOKASI YANG ADA GEREJA ALKITABIAH dengan menjual seluruh harta dan membeli ladang yang ada harta terpendam di dalamnya, ATAU PINDAHKAN GEREJA ALKITABIAH KE LOKASI ANDA dengan membeli mutiara yang indah itu dan bawa pulang kepada keluarga Anda.* 

 

Berikut ini alamat GBIA Seluruh Indonesia. <http://graphe-ministry.org/en/other-churches/>

 

YouTube channel: GBIA GRAPHE 

 

Jakarta, 21 Des 2017

Dr. Suhento Liauw

Minggu, 31 Oktober 2021

PERAYAAN ULANG TAHUN PEKABARAN INJIL ( BAPTIS PAPUA)

 

 R g b p News

 




 


 

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke 65 Injil masuk ke pedalamam Papua, Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua  di Tanah Papua Wilayah Mimika, menggelar peringatan yang dipusatkan di halaman Gereja Baptis  jemaat  Batu Karang Timika (Kamis Tanggal 28 Oktober tahun 2021

 

Kegiatan ini mengangkat thema;

 “ORANG BENAR AKAN HIDUP OLEH IMAN”(ROMA 1 ayat 17),

 

sedangkan untuk sub temanya adalah, Melalui Hari Perayaan Misi Penginjilan Gereja Baptis Papua ke 65 Tahun, Umat Baptis diharapkan Menjadi Jemaat yang Misioner dalam Daya, Dana dan Doa. 

 

Dalam kegiatan ini dimulai dengan pembacaan sejarah singkat penyebaran Injil Kristus di Papua di daerah Pedalaman yang di sampaikan oleh mewakili Badan Pelayan Pusat-Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua yaitu, Ibu Penetina Kogoya, S I P. 

 

Injil Tuhan Yesus Kristus tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu sehingga menjadi bagian dalam kehidupan umat yang harus dipahami,  bahwa Injil Tuhan Yesus Kristus harus terus diberitakan sampai ke ujung bumi sekalipun. 

 

Ketua Departemen PW Baptis Papua ibu Dorkas Wenda, S pdk, hadir di tengah umat Baptis Wilayah Timika mengungkapkan Hari ulang tahun Pekabaran Injil ke-65 tahun 2021 ini, kita rayakan masih dalam situasi dan kondisi yang berbeda karena dirayakan ditengah situasi dan kondisi Pandemi COvid-19 ini. Saya hendak mengajak semua umat Baptis  wilayah Timika untuk terus mensyukuri Hari Ulang Tahun ke-65 Tahun Pekabaran Injil Di daerah pedalaman Tanah Papua. yang dilalui dan dirayakan di tahun 2021 ini dengan keyakinan bahwa, tanpa INJIL maka semua manusia di Tanah ini, tidak mungkin hidup berdampingan seperti saat ini, tetapi Iman kita menyakini bahwa hanya karena Injil Kristus saja, kita boleh ada bersama seperti di saat ini.

 

Ibu Ketua Departemen Persekutuan Wanita Baptis Papua, Ibu Dorkas Wenda S Pdk, menekankan bahwa lewat syukur ini, kiranya memberi motivasi dan semangat bagi segenap anak-anak Tuhan dalam menjalankan seluruh tugas dan tanggung jawab di tengah dunia dan kerjanya yang dipercayakan Tuhan, sehingga perayaan ini memberikan support kepada segenap anak-anak Tuhan dimanapun dirinya hidup dan bekerja serta melayani sebagai apapun, semuanya bertanggungjawab untuk menyaksikan Injil Tuhan Yesus Kristus kepada dunia dan harus merenungkan perayaan ini sebagai momen penting untuk memotivasi setiap orang untuk terus bekerja dengan lebih giat dan lebih baik lagi sebagai tanda syukur kepada Tuhan.

 

Para Rasul-Rasul adalah Saksi Hidup sedangkan kita saat ini Saksi IMAN.  Orang yang beriman adalah orang yang mengarahkan pandangannya pada kekekalan, dan mereka bukanlah orang melarikan diri dunia (eskapis) seperti yang dituduhkan oleh Karl Max. Orang yang beriman kepada Tuhan adalah orang yang mendapatkan kekuatan yang besar dalam hidupnya, sehingga hidup mereka dipakai untuk menjadi berkat terbesar bagi umat manusia. Siapakah yang telah memberikan sumbangsih terbaik dan terbesar bagi umat manusia, kecuali mereka yang hidupnya telah diubah dan diberkati oleh Tuhan, sehingga dapat menjadi berkat bagi umat manusia pada umumnya, dan gereja pada khususnya? Orang beriman ialah orang yang menerima kehendak Allah di dalam hidupnya, dan di dalam ketaatan mereka kepada kehendak Allah, mereka mengalami transformasi yang luar biasa untuk mempersiapkan mereka dipakai oleh Allah untuk merubah dunia ini.

Orang yang mampu untuk merubah dunia menjadi lebih baik adalah orang- orang yang beriman, salah satunya adalah William Wilberforce. Melalui pergumulan rohani yang penuh dengan kepahitan selama 52 tahun akhirnya ia telah berhasil menghapuskan perbudakan di Inggris dengan indah. Apakah kita telah merubah dunia di sekitar kita menjadi lebih baik? Sudahkah diri kita dipakai menjadi alat bagi Dia? Orang yang beriman bukanlah orang yang mudah berputus asa dan mudah menyerah saat melihat realita dunia yang hancur ini tapi mereka justru melihat ada rencana dan kehendak Tuhan yang akan tergenapi di dunia. Anak- anak Tuhan pasti dapat merubah dunia menjadi lebih baik oleh karena itu janganlah kita menjadi takut dan mudah berputus asa sebab Tuhan pasti akan memberikan kekuatan dan kemampuan pada kita. Amin..!!

 

Pantauan Redaksi Gema Baptis News, perayaan ibadah syukur ini, di isi dengan  atraksi drama yang mengisahkan sejarah masuknya Injil di Pedalaman Tanah Papua. Drama ini diperankan para remaja dan pemuda  Baptis Wilayah Timika.

Ibu Ketua Departement PW yang dipercayakan sebagai pengkhotbah juga mengisahkan tentang perjalanan para penginjil yang mengorbankan jiwa raga untuk memperkenalkan Injil pada orang -orang tua  jaman lalu.

Menurut dia, para penginjil lokal jaman dahulu menunjukan semangat kemandirian yang luar biasa, dalam mengabarkan Injil di Tanah Papua.

“Mereka tidak mengenal lelah, walau berjalan kaki memberitakan Injil naik gunung, turun lembah dan jarak yang jauh sekalipun.

 

Dengan semangat orang-orang  tua kita dulu menjual hasil ternak ataupun tanaman, hanya untuk mereka pakai dalam kegiatan mengabarkan Injil di seluruh penjuru Tanah Papua. Semangat kemandirian itulah yang seharusnya ditiru oleh jemaat Tuhan pada masa sekarang,” 

Dalam kotbahnya juga mengingatkan hukum kasih yang menjadi fondasi kehidupan umat Nasrani sejak gereja awal.

“Mau agama apa saja, dari suku mana saja, rambut lurus rambut keriting, kulit putih kulit hitam, Injil jadi tonggak kehidupan, guna terciptanya cinta dan kasih,” ungkapnya.

 

“Kita harus yakin, Dengan iman sesulit apapun keadaan kita, harus yakini Tuhan Akan beserta kita sampai akhir jaman,” 

 

Perayaan tahun ini diwarnai fragmen atau drama yang diperagakan oleh pemuda pemudi Baptis Wilayah Timika.

 

Selanjutnya Dalam Sambutan mewakili B P P - P G B P  Ibu Penetina Kogoya, menerangkan, usai masuknya Injil di Tanah Papua 65 tahun silam, pekabaran Injil selalu berkembang ke seluruh pelosok di Tanah Papua.

“Ada catatan sejarah, ada kolaborasi denominasi gereja dalam pekabaran Injil di Tanah Papua. Dan kita terus bergandengan tangan dalam suasana Damai menebarkan benih kebenaran Injil  Kristus.

 

“Walaupun dalam situasi kondisi saat ini  masih pandemi, kita harus bijak menggunakan hikmat, dan marilah kita terus tingkatkan iman dan imun serta terus berdoa kepada Tuhan agar kita selalu dilindungi dari setiap marah bahaya,” tukasnya. (R g b p News)