R G B P News
Isu-isu liar kembali bergulir di kalangan umat beragama. Di kalangan umat Islam, isu yang diangkat adalah perihal kehalalan bahan pembuatan vaksin. Dan, untuk menjawab sekaligus menangkal isu tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menyatakan status vaksin sebagai suci dan halal.
Sementara itu, bagi kalangan umat Kristen, salah satu isu yang digulirkan adalah perihal adanya microchip 666 yang nantinya akan ditanamkan ke tubuh manusia melalui vaksin. Kiriman-kiriman handai taulan perindhal isu tersebut telah tersebar di berbagai Grup WhatsApp. Pada akhirnya, banyak pertanyaan yang diajukan tentang kebenaran isu liar tersebut, yang bila tidak dijawab dengan tepat, akan menimbulkan kebingungan umat.
Isu microchip 666 sebenarnya bukanlah hal baru. Hampir setiap ada kejadian, musibah, dan pandemi, seperti yang terjadi sekarang ini, isu ini selalu bergulir. Hal tersebut dapat dikatakan berawal dari studi eskatologi, atau yang sering disebut sebagai studi tentang 'akhir zaman' di kalangan umat Kristen.
Sebagian teolog menafsirkan ayat-ayat yang berhubungan dengan akhir zaman secara literal tanpa melihat konteks saat ayat tersebut dituliskan. Salah satu contoh ayat tersebut adalah: Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, yang tertulis di surat Wahyu pasal 13 ayat 16.
Ayat tersebut dianggap sebagai cara yang digunakan oleh sosok yang dijuluki sebagai 'Antikris' untuk menguasai sistem perekonomian dunia dengan menanamkan chip pada tangan dan/atau dahi seluruh umat manusia. Karenanya, bagi umat yang mempercayai penafsiran tersebut, vaksin yang dapat dianggap sebagai solusi bagi seluruh umat manusia di masa pandemi ini adalah sarana paling tepat yang dapat digunakan untuk menggenapi ayat tersebut.
Mereka meyakini akan ada microchip yang diintegrasikan di tiap vaksin yang akan disuntikkan pada manusia. Microchip itulah yang nantinya dapat digunakan oleh sang 'penguasa' untuk mendeteksi dan mengendalikan kehidupan manusia di seluruh dunia. Tidak ada orang yang dapat melakukan transaksi apapun tanpa chip tersebut.
Penafsiran tersebut tentu saja dapat menimbulkan keresahan dan ketakutan di kalangan umat. Bahkan, bisa jadi akan ada orang yang menolak untuk divaksin. Sungguh disayangkan bila hal itu sampai terjadi. Niat baik pemerintah untuk mengendalikan sekaligus menghentikan penyebaran virus corona tidak menemui sasarannya.
Karenanya, peran dari lembaga-lembaga Kristen aras nasional sangat diharapkan untuk dapat menyosialisasikan vaksinasi sekaligus juga mengedukasi umat. Apresiasi patut diberikan kepada Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) yang telah mengeluarkan imbauan tentang vaksinasi pada 5 Januari 2021. Dalam rilisnya, PGI menghimbau gereja-gereja untuk dapat memberikan dukungan optimal bagi pelaksanaan vaksinasi.
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim terkait adanya Chip RFID 666 ini merupakan klaim yang sudah lama beredar.
Pada tahun 2014, rumor chip RFID pernah ramai diperbincangkan di AS, 1 dari 3 orang Amerika telah tertanam chip RFID dan sebagian besar tidak menyadarinya. Dalam laporan yang beredar mengatakan bahwa kebanyakan chip ditanamkan saat perawatan gigi.
Pada pertengahan tahun 2017, rumor chip 666 RFID beredar di Indonesia melalui pesan berantai. Umat Kristen Indonesia saat itu dihebohkan dengan kabar adanya demo pemasangan chip ini yang digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, akhir Juli 2017 lalu.
Pihak ICE akhirnya [membantah](https://www.gkridc.com/ice-bantah-ada-demo-pemasangan-chip-rfid-666/) dan menjelaskan bahwa acara di ICE BSD City tidak ada kaitannya dengan chip 666 RFID. Mereka mejelaskan bahwa telah terjadi kesalahpahaman dimana saat tayangan di RCTI yang membahas mickrochip implan, dalam waktu bersamaan muncul tayangan iklan acara IIPE. Dengan itu, yang menyebarkan informasi salah menduga acara IIPE adalah acara demo pemasangan chip RFID 666.
Bahkan cerita itu dihembuskan oleh situs satir untuk mengolok-olok teori konspirasi yang menuduh pemerintah mencoba mengendalikan warganya dari jarak jauh dengan menggunakan microchip.
Penggunaan mikrochip yang ditanam di bawah kulit tidak menutup kemungkinan akan dilakukan suatu hari nanti, tetapi fungsinya untuk menyimpan informasi riwayat medis penting yang nantinya akan digunakan oleh dokter untuk tindakan lebih lanjut.
Cerita tentang chip implan 666 RFID yang ditanamkan pada tangan kanan dan dahi tidak terbukti alias hoax, berasal dari teori liar yang dihembuskan oleh para pecinta teori konspirasi, kemudian berkembang dengan menghubungkannya dengan agama.
Di samping itu, PGI juga meminta pemerintah untuk meningkatkan edukasi dan literasi secara berkelanjutan dan merata bagi masyarakat luas dengan memanfaatkan semua jejaring sosial sebagai media dan medium sosialisasi. Edukasi publik yang diharapkan tentunya berhubungan dengan distribusi vaksin, pelaksanaan vaksinasi, efektivitas vaksinasi, termasuk kemungkinan kontra indikasi dan penanganannya yang telah dipersiapkan.
Mengingat umat Kristen di Indonesia terdiri dari beragam aliran/mazhab, alangkah baiknya bila sosialisasi dan edukasi tidak hanya dilakukan oleh salah satu lembaga saja. Selain PGI, ada juga Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) dan Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), misalnya. Lalu, ada juga gereja-gereja dari aliran Advent, Baptis, Bala Keselamatan, dan Ortodoks.
Sudah bukan rahasia lagi bila ada pemeluk Kristen yang sangat fanatik dengan alirannya sendiri. Ia sulit untuk menerima pendapat atau imbauan yang disampaikan oleh lembaga aras yang tidak sealiran dengannya.
Tentu saja, orang-orang yang diharapkan tergabung di dalamnya adalah para teolog yang dianggap mumpuni, dan tidak hanya berasal dari satu aliran saja. Dengan demikian, umat tidak harus menunggu-nunggu arahan dari lembaga arasnya masing-masing. Dan nantinya tiap kebijakan dari pemerintah dapat tersampaikan dengan jelas, baik dari segi tujuan, sasaran, maupun dari sisi teologisnya.
Juga Baru-baru ini beredar narasi yang menyebutkan vaksin COVID-19 mengandung mikrocip magnetis. Narasi tersebut tidak benar dan masyarakat diminta tidak terpengaruh.
Beberapa video tentang hoax itu sudah beredar di media sosial. Unggahan-unggahan tersebut menunjukkan seseorang meletakkan koin uang seribu rupiah di lengan bekas suntikan vaksinasi COVID-19.
Hasilnya koin menempel seolah membuktikan narasi vaksin COVID-19 yang mengandung mikrocip magnetis adalah benar.
Ketua Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro mengatakan persoalan tersebut perlu dikaji dengan baik.
Ia menjelaskan lubang jarum suntik sangat kecil, tidak ada partikel magnetik yang bisa melewati.
“Vaksin berisi protein, garam, lipid, pelarut, dan tidak mengandung logam. Jadi perlu dijelaskan bahwa berita itu hoax,” katanya.
Lebih jauh Jubir Vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmidzi mengatakan vaksin mengandung bahan aktif dan non aktif, dimana bahan aktif berisi antigen dan bahan non aktif berisi zat untuk menstabilkan, menjaga kualitas vaksin agar saat disuntikan masih baik.
Adapun jumlah cairan yang disuntikan hanya 0,5 cc dan akan segera menyebar di seluruh jaringan sekitar, sehingga tidak ada carian yg tersisa.
“Sebuah logam dapat menempel di permukaan kulit yang lembab biasanya disebabkan keringat. Pecahan uang loga seribu rupiah terbuat dari bahan nikel dan nikel bukan bahan yang bisa menempel karena daya magnet,” ucapnya.
Sosialisasi Program vaksinasi dalam rangka menanggulangi pandemi COVID-19 di lingkungan Kerjapun terus bergulir.
Program ini diperlukan dukungan Karyawan/masyarakat untuk menyukseskannya.
Dukungan masyarakat akan terbentuk apabila pemahaman tentang vaksin & program vaksinasi itu sendiri sudah terbentuk.
Oleh karena itu diperlukan peran aktif berbagai pihak untuk berpartisipasi aktif dalam mengedukasi karyawan/masyarakat terkait program vaksinasi tersebut.
Terkait dengan hal tersebut salah satu Perusahaan di Indonesia melakukan Sosialisasi kepada Karyawannya melalui Departemen PAD dan PHMC berkolaborasi mengadakan Sosialisasi Vaksin PADA KARYANNYA.
Dipublikasikan oleh RGBP News.
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Widyawati, MKM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar